JAKARTA  –  Indonesia merupakan merupakan negara kepulauan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Dengan kondisi geografis yang sangat luas, Indonesia membutuhkan perangkat kedirgantaraan yang kuat dan mampu melindungi seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah Indonesia pun berencana membeli pesawat tempur F-16 milik Locheed Martin untuk memperkuat pertahanan udara. Teknologi dibalik kemampuan pesawat ini dibahas dengan mahasiswa teknik dari berbagai universitas, termasuk mahasiswa Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Nasional, di @America, Rabu (26/7).

“Hal pertama yang harus dilakukan saat ada serangan militer adalah menguasai udara. Karena dalam setiap apapun harus ada serangan dari udara, itulah fungsi dari fighter. Maka dari itu kita perlu F-16. Apakah kita mau perang? Tidak. Indonesia cinta damai. Tapi untuk cinta damai kita harus siap perang. Saya berharap mahasiswa sebagai generasi muda harus selalu mengikuti perkembangan teknologi sehingga dapat berpartisipasi kedepannya untuk dapat mengembangkan pesawat sendiri” ujar Dr. Romie Octavianus Bura selaku pembicara dalam event tersebut, Rabu (26/7).

Pria berdarah Toraja itu juga menjelaskan mengenai pesawat tempur F-16 yang merupakan pesawat dari Amerika Serikat generasi ke 4. Pesawat itu di desain pada tahun 70-an dan selalu berevolusi dalam sistem evionik sehingga lebih modern dan senjatanya lebih kuat. Evolusi F-16 di desain menjadi pesawat tempur ringan kemudian berevolusi menjadi pesawat tempur yang tidak hanya menyerang di udara tetapi juga di darat. Ada dua alasan mengapa Indonesia memilih F-16, pertama, F-16 sangat lincah di bandingkan jet tempur yang lain. F-16 memiliki radius putaran  yang kecil sehingga bisa menempatkan diri di belakang musuh. Kedua, F-16 relatif tidak mahal untuk dioperasikan.

F-16 dipromosikan sebagai pesawat tempur yang punya asam garam cukup lama terbukti dan teruji dalam perang. Pesawat ini memang didatangkan untuk menjawab kebutuhan TNI Angkatan Udara untuk mengganti pesawat tempur lainnya. Kemampuan F-16 memang dianggap yang paling mutakhir.  Selain itu, F-16 revisi 70 memiliki kemampuan performance yang lebih baik dan sistem yang jelas. Pada awal kemunculannya, pesawat ini masih menggunakan alat-alat analog kemudian berkembang menjadi digital sehingga pilot lebih baik dalam menggunakan misinya.

Ditemui seusai acara, Taufik Budi Santosa mengungkapkan pembelajaran ini sangat menginovasi bagi mahasiswa teknik. Karena dilihat dari teknologinya sendiri itu saling berhubungan antara teknik mesin, teknik elektro dan teknik fisika. Mahasiswa teknik elektro angkatan 2011 UNAS itu juga mengungkapkan banyak materi yang didapat diantaranya mulai dari pembentukan pesawat, desainnya, tipe-tipe F-16 dari generasi ke generasi, dan cara bisnisnya. “Harapan saya khususnya untuk diri saya sendiri dan mahasiwa lain, semoga kedepan dapat diciptakan orang-orang desain yang terampil juga disiplin ilmunya. Untuk kedepannya juga mudah – mudahan Indonesia bisa lebih maju dibidang aerodinamik,” tutupnya.

Acara yang berlangsung di @america Pasific Place Lantai 3 itu dihadiri oleh 30 mahasiswa-mahasiwa teknik dari Universitas Nasional dan 2 dosen pembimbing diantaranya dosen teknik fisika, Fitri Rahmah, S.T., M.T., dan sekretaris program studi teknik fisika, Fitria Hidayanti, S.Si., M.Si. Selain itu, mahasiswa dari universitas lain yang turut hadir diantaranya Universitas Indonesia dan Universitas Islam 45.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *